Merevisi Hermeneutika Akhlak
November 29, 2008 handay14
“Innaa lil-laHi wa innaa ilai-Hi rooji’un” (ungkapan terjadi bencana besar) !!!, adalah ungkapan sangat tepat untuk memotret totalitas kondisi kerusakan akhlak dari “akar bumi” sampai “atap langit” bangsa Indonesia, utamanya komunitas muda dasawarsa ini.
Naifnya! Selama ini terjadi “pelecehan terhadap agama” . Dengan fenomena; musibah kehancuran akhlak itu, banyak yang menyebut hal “biasa”. Misalnya: “ ‘biasa’ jaman modern, generasi muda-mudinya bergaul bebas dan jauh dari akhlakulkarimah”. Padahal aspek hukum fiqih, menganggap kemaksiatan adalah hal “biasa”, itu bisa Murtad (keluar dari Islam) hukumnya.
Bahkan ironinya para orang tua pun banyak yang mengatakan: “ ‘biasa’ sekarang sudah jamannya (generasi mudanya bergaul bebas), kita orang tua tidak perlu fanatik lagi”.
Semestinya, sangat tepat kalimat “biasa” tersebut, diganti dan diungkapkan dengan kalimat “Inna lilla-Hi wa Inna Ilai-hi Roji’un”. Sebagai ungkapan terjadinya musibah sangat besar(kehancuran akhlak) yang telah kronis dan terus gencar melanda bangsa kita ini.
Banyak pula dalam “euphoria modernismenya”, mereka berceletuk: “para kiai/ustadz hanya ‘fanatik’ dengan agama belaka”. Sungguh unik, selama ini kalimat “fanatik” hanya dirangkaikan dengan kalimat ”agama”. Padahal,kata(fanatik) itu tepat dirangkaikan dengan kalimat lainnya. Misalnya “fanatik korupsi”, gelar bagi yang aktif berprofesi korupsi. Atau “fanatik judi” gelar bagi yang kecandu berjudi, “fanatik politik” gelar bagi politisi, dan lainnya.
Kalimat–kalimat tersebut tepat untuk dirangkaikan dengan kata “fanatik”. Karena definisi fanatik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah : “teramat kuat”(baik keyakinan atau bentuk sikap). Tidak hanya harus dirangkaikan dengan kata “agama” saja !
Di konteks lain, kencangnya siklus gelombang Liberalisme dan “saudara-saudaranya”(pluralisme, sekularisme dan sejenisnya), telah mengusung menjangkitnya fenomena “virus syok ilmiah” kalangan muda pelajar. Sehingga sering terlontar ungkapan: “Kita ini ingin jadi Muslim moderat, dan bukan Nabi atau Rasullulah yang ma’sum(terjaga dari kemaksiatan)”.
Entry Filed under: Uncategorized